Minggu, 09 Oktober 2011

TREND DAN ISSU TENTANG LANSIA

BAB I

PENDAHULUAN


A.          Latar Belakang
Pada tahun 2010, jumlah penduduk Lansia yang tinggal di perkotaan sebesar 12.380.321 (9,58%) dan yang tinggal di perdesaan sebesar 15.612.232 (9,97%). Terdapat perbedaan yang cukup besar antara Lansia yang tinggal di perkotaan dan di perdesaan. (KESRA)
Meningkatnya jumlah lansia sebenarnya adalah indikator yang menunjukkan semakin sehatnya penduduk Indonesia karena usia harapan hidupnya meningkat, meskipun disisi lain produktivitas mereka menurun. Hal inilah yang melahirkan banyaknya jumlah lansia terlatar.
Berdasarkan data depsos, dari populasi lansia yang tercatat sebanyak 16.522.311 jiwa, sekitar 3.092.910 (20 persen) diantaranya adalah lansia terlantar (Depsos, 2006). Lansia terlantar inilah yang melahirkan anggapan bahwa lansia tidak produktif.
Padahal di usia yang sudah baya tersebut, lansia tentu tidak ingin dianggap menjadi beban, di sisi lain pasti juga ada harapan dari diri mereka untuk menikmati masa tuanya dengan bergembira tanpa harus memikirkan beban keluarga
Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh instansi pemerintah diantaranya pelayanan kesehatan, sosial, ketenagakerjaan dan lainnya telah dikerjakan pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat individu lansia, kelompok lansia, keluarga, Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW), Sarana pelayanan kesehatan.





Pandangan Islam Tentang Lansia
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra : 23-24
Artinya :
Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah berbuat baik ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaan, maka jangan sekali-sekali engkau mengatakan kepada ke duanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah “ wahai tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil”.
 


BAB II
PEMBAHASAN

A.       SIFAT-SIFAT PENYAKIT PADA LANJUT USIA
Sifat-sifat penyakit pada lansia perlu sekali untuk dikenali supaya kita tidak salah ataupun lambat dalam menegakkan diagnosis, sehingga terapi dan tindakan lainnya yang mengikutinya dengan segera dapat dilaksanakan. Hal ini akan menyangkut beberapa aspek, yaitu; etiologi, diagnosis dan perjalanan penyakit:
Etiologi
Sebab penyakit pada lansia lebih bersifat endogen daripan eksogen. Hal ini disebabkan menurunnya berbagai fungsi tubuh karena proses menua.
·      Etiologi sering kali tersembunyi.
·      Sebab penyakit bersifat ganda (multiple) dan kumulatif, terlepas satu sama lain ataupun saling mempengaruhi.
Diagnosis
Diagnosis penyakit pada lansia umumnya lebih sukar dari pada remaja/dewasa. Karena sering kali tidak khas gejalanya dan keluhan-keluhan tidak has dan tidak jelas.
Perjalanan Penyakit
Pada umumnya perjalanan penyakit adalah kronik (menahun) diselingi dengan eksaserbasi akut.
·      Penyakit bersifat progresif, dan sering menyebabkan kecacatan.


Kemunduran dan kelemahan yang diderita lansia.
• Imobilitas
• Ketidakstabilan
Gangguan Intelektual (demensia)
• Isolasi (depresion)
• Inkontinensia
• Immuno-defeciency
• Ifection
• Impaction (sembelit)
• Insomnia
B.        MASALAH KESEHATAN GERONTIK
1).   Masalah kehidupan sexual
Adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos atau kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada kenyataannya hubungan seksual pada suami isri yang sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun. Bahkan aktivitas ini dapat dilakukan pada saat klien sakit atau mengalami ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau menyesuaikan diri dengan pasangan masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa maturitas dan kemesraan antara kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan fisik dan emosional secara mendalam selama masih mampu melaksanakan.
2).  Perubahan prilaku
Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya sudah tidak menarik lagi, lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhinya menjadi sumber banyak masalah


3).  Pembatasan fisik
Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan – peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantunan yang memerlukan bantuan orang lain
4).  Palliative care
Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut ditunjukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli fermasi dapat menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat. Sebagai contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan dioksin dan diuretika. Diuretik berfungsi untu mengurangi volume darah dan salah satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin
5).  Pengunaan obat
Persoalan utama dan terapi obat pada lansia adalah terjadinya perubahan fisiologi pada lansia akibat efek obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut. (Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia ini adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk lansia. Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan beberapa jenis obat.
6).  Kesehatan Mental
Selain mengalami kemunduran fisik lansia juga mengalami kemunduran mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan soialnya akan semakin berkurang dan dapat mengakibatkan berkurangnya intregrasi dengan lingkungannya.



C.    UPAYA PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP LANSIA
Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi azas, pendekatan, dan jenis pelayanan kesehatan yang diterima.
1.      Azas
Azas yang dianut oleh Departemen Kesehatan RI adalah Add life to the Years, Add Health to Life, and Add Years to Life, yaitu meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang usia.
2.      Pendekatan
Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
·         Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social development)
·         Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging persons)
·         Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)
·         Lansia turut memilih kebijakan (choice)
·         Memberikan perawatan di rumah (home care)
·         Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)
·         Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the aging)
·         Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya (productivity)
·         Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help care and family care)


3.      Jenis
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan, yaitu
Promotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta pemulihan.

KONTRASEPSI




A.    Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.

B.     Metode Kb Sederhana Spermisida
1.      SPERMISIDA
Spermatisida atau spermisida adalah bahan atau substansi yang dapat me-non-aktifkan sperma sebelum sperma masuk ke rongga rahim. Umumnya mengandung bahan kimia yang dinamakan nonoxynol-9, yang bisa membunuh sperma. Dipakai dengan cara dioleskan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim.
Ada sebagian wanita yang sensitif terhadap nonoxynol-9. Spermatisida juga dapat membunuh flora normal yang ada di vagina dan saluran kencing, sehingga dapat menyebabkan infeksi di saluran kencing dan vagina
Spermatisida lebih efektif jika dipakai kombinasi dengan metode barier lainnya seperti kondom, diaphragma atau cervical cap. Efektifitasnya jika dipakai tanpa kombinasi sekitar 71 %, artinya dari 100, yang gagal (menjadi hamil) sekitar 29% dalam pemakaiannya selama setahun.
Jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu
 < 6 jam setelah senggama.

2.      Jenis spermisida terbagi menjadi:
a.       Foam Aerosol (busa).
b.      Jeli / Krim.
c.       Tablet vagina, suppositoria atau dissolvable film.
3.       Indikasi
a.       Menyebabkan sel selaput sel sperma pecah.
b.      Memperlambat motilitas sperma.
c.       Menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.

4.      Cara Kerja
a.       Foam / Aerosol (busa) akan efektif setelah dimasukkan (insersi).
b.      Aerosol dianjurkan bila spermisida digunakan sebagai pilihan pertama atau metode kontrasepsi lain tidak sesuai dengan kondisi klien.
c.       Jenis spermisida jeli biasanya digunakan bersamaan dengan diafragma.

5.      Keuntungan :
a)Efektif seketika (busa dan krim).
b)            Tidak mengganggu produksi ASI.
c)            Sebagai pendukung metode lain.
d)           Tidak mengganggu kesehatan klien.
e)            Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
f)             Mudah digunakan.
g)            Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
h)            Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik.

6.      Kekurangan :
a.       Tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis B, penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS, klamidia, gonorrhea.
b.      Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun dan bila wanita tidak selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk maka angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun).
c.       Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain (misal kondom).
d.      Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara penggunaannya.
e.       Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap melakukan hubungan seksual.
f.       Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah spermisida dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.
g.      Hanya efektif selama 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.
h.      Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.
            Efek Samping Atau Masalah Penanganan
a.       Iritasi vagina atau iritasi penis dan tidak nyaman Periksa adanya vaginitis dan penyakit menular seksual. Bila penyebabnya spermisida, sarankan memakai spermisida dengan bahan kimia lain atau bantu memilih metode kontrasepsi lain.
b.      Gangguan rasa panas di vagina Periksa reaksi alergi atau terbakar. Yakinkan bahwa rasa hangat adalah normal. Bila tidak ada perubahan, sarankan menggunakan spermisida jenis lain atau bantu memilih metode kontrasepsi lain.
c.       Tablet busa vaginal tidak larut dengan baik Pilih spermisida lain dengan komposisi bahan kimia berbeda atau bantu memilih metode kontrasepsi lain.

7.      Petunjuk Umum
a.       Sebagai alat kontrasepsi, spermisida harus diaplikasikan dengan benar sebelum melakukan hubungan seksual.
b.      Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengisi aplikator (busa atau Jeli / krim) dan insersi spermisida.
c.       Jarak tunggu 10-15 menit pasca insersi spermisida sebelum melakukan hubungan seksual. Kecuali bentuk spermisida aerosol (busa), tidak memerlukan waktu tunggu karena langsung larut dan bekerja aktif.
d.      Perhatikan petunjuk pemakaian spermisida, baik cara pemakaian maupun penyimpanan dari setiap produk (misal: kocok terlebih dahulu sebelum diisi ke dalam aplikator).
e.       Ulangi pemberian spermisida, bila dalam 1-2 jam pasca insersi belum terjadi senggama atau perlu spermisida tambahan bila senggama dilanjutkan berulang kali.
f.       Menempatkan spermisida jauh ke dalam vagina agar kanalis servikalis tertutup secara keseluruhan.

C.    TIPS PEMAKAIAN SPERMATISIDA :
Gel, cream atau busa
Isi aplikator dan masukkan ke vagina sedalam2nya yang masih terasa nyaman (nggak nyeri). Kemudian dorong plunger pada aplikator untuk mengeluarkan gel, cream or busa. Spermatisida yang di semprotkan tadi harus dekat dengan leher rahim.
Di bawah ini merupakan cara pemakaian alat kontrasepsi spermisida sesuai dengan bentuknya:
1. Foam Aerosol (busa)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyu_8mz6b_BK0BhXm3ni9m7g456SB2lLM6BZ2N9y11zsXix4f5Bxnx9uw-cs75YIjSXzj7y7ubztx7S8WRHUhHmPeQF-s2t1-ON7aOo29tpjPSisgoI1Nqx40p7KC_kZ3X0Y1Pv8aJcCF_/s320/spermicide-foam.JPG
CARA PEMAKAIAN:
Sebelum digunakan, kocok tempat aerosol 20-30 menit. Tempatkan kontainer dengan posisi ke atas, letakkan aplikator pada mulut kontainer dan tekan untuk mengisi busa. Masukkan aplikator ke dalam vagina mendekati serviks dengan posisi berbaring. Dorong sampai busa keluar. Ketika menarik aplikator, pastikan untuk tidak menarik kembali pendorong karena busa dapat masuk kembali ke pendorong. Aplikator segera dicuci menggunakan sabun dan air kemudian keringkan. Aplikator sebaiknya digunakan untuk pribadi. Spermisida aerosol (busa) dimasukkan dengan segera, tidak lebih dari satu jam sebelum melakukan hubungan seksual.
2. Krim dan Jeli
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg38INXHgNRVtTEsOkQPA7qwsRlVkbN2eyNO7SoJrgxmYN2bPDjmSblyod5L52BL6s_nIR3-Z9Nsctk5dI-_vV0vHmA0s7XezZf6ERVEhQcht3ITMInxdgpve5AgZIQc3SsQ72eFhhtZFGg/s320/spermicide-jell.JPG
Cara pemakaian:
Krim dan jeli dapat dimasukkan ke dalam vagina dengan aplikator dan atau mengoles di atas penis. Krim atau jeli biasanya digunakan dengan diafragma atau kap serviks, atau dapat juga digunakan bersama kondom. Masukkan spermisida 10-15 menit sebelum melakukan hubungan seksual. Isi aplikator dengan krim atau jeli. Masukkan aplikator ke dalam vagina mendekati serviks. Pegang aplikator dan dorong sampai krim atau jeli keluar. Kemudian tarik aplikator keluar dari vagina. Aplikator segera dicuci menggunakan sabun dan air kemudian keringkan.
Cara memasukkan spermisida bentuk busa, krim atau jeli dengan inserter.
 Cara Pakai Spermisida